PUJANGGA FAJAR
Kabut petang menghalangi tujuan hidupku.
Angin topan menghancurkan keinginanku.
Apakah Tuhan Maha Adil bagi umat-Nya?
Dikala sang pujangga duduk termenung menanti kedatangan sang fajar.
Sesaat itu pula mendung disertai gemuruh yang menggelegar datang.
Oh, betapa luluh lantah hati ini melihat goresan pena
Yang tertuang pada isi hati tentangnya.
Hari itu 19 september.
Hujanpun mulai turun.
Tatkala setitik air hujan pertama kali turun dari langit.
Aku menengadah.
Kupanjatkan doa bagi-Mu.
Dalam benakku berkata.
Selamatkanlah jiwaku yang sedang melayang ini.
Reza Febrian Prasetyo