Terima Kasih telah membaca Blog ini, semoga bermanfaat bagi anda dan memberikan inspirasi bagi semua.

Selasa, 17 November 2009

KIDUNG

KIDUNG

Didasar hatiku ada sebuah kidung yang terpendam.
Ia terbalut dengan jubah putih yang tak ternoda.
Ia hanya mengerti tentang kasih.
Ia hanya mengerti tentang cinta.

Oh, sang dewi cinta…berikanlah sentuhan suci kepadanya
Berikanlah kehidupan…
Karena hanya dengan sentuhanmu itu ia dapat hidup.

Oh, sang pujangga…dendangkanlah nyanyian-nyanyian syairmu
Serukanlah kepadanya…
Karena hanya dengan seruanmu ia dapat berucap dengan indah.

Kidungku…dengarlah…
Karena engkau begitu bersih…begitu suci…begitu harum…
Jangan sampai kau terjatuh
Dalam setitik noda hitam pada kepedihan ini.



Reza Febrian Prasetyo

RINDUKU

RINDUKU

Dua hari berlalu tanpa senyummu.
Berlalu tanpa belaimu.
Berlalu tanpa kasihmu.

Canda, tawa, tangis, bahagia…
Dimanakah kau sekarang?
Apakah kau akan meninggalkan diriku untuk selamanya?
Ataukah kau akan kembali kedalam tautan hatimu sekarang?

Belahan jiwaku…duniaku hancur tanpamu.
Tetesan darah yang mengalir dari pelupuk mataku pun tak berkesudahan.
Damaiku…bawalah aku memasuki duniamu.
Bawalah aku memasuki indahnya alam semesta.
Jentikan jarimu kepada rumput yang gersang, agar mereka tersenyum kembali.



Reza Febrian Prasetyo

SEPI SUNYI KUMENANTIMU

SEPI SUNYI KUMENANTIMU

Malam ini kumenanti.
Dirimu dalam hidupku.
Kuingin menatap wajahmu.
Bagai sinar rembulan.

Mungkinkah,kau akan datang
Disisiku selalu.
Atau mungkin kau akan pergi
Untuk selamanya.

Sepi sunyi kumenantimu disini.
Walau kau tak datang didepan hadapanku
Meski angin malam menusuk dikalbu.
Mudah-mudahan kau datang kepadaku



Reza Febrian Prasetyo

SENDIRI

SENDIRI

Gelisah…termenung…muram…
Aku meratapi kesedihan ini seorang diri.
Dimana aku membutuhkanmu?
Harus bagaimana aku mencumbumu kembali?

Apakah dengan melepaskan jiwaku untuk itu?
Ataukah dengan caci maki saudara-saudaramu itu?

Ya…aku akan segera bersamamu.
Selama aku bernafas dan selama nafas itu ada.
Aku akan selalu bersamamu.



Reza Febrian Prasetyo

REMBULAN SYAHDU

Malam penuh bintang, tapi gelap.
Melam penuh gemerlap canda, tapi suram.
Dunia bertambah beku.
Ditengah derap dan suara menderu.

Angin menghembuskan nafasnya perlahan-lahan
Seperti nada-nada pada dawai gitar yang dipetik para Dewa.

Oh, rembulan…tunjukan parasmu…
Tunjukan keagunganmu…
Karena aku saat ini sangat membutuhkan dirimu.



Reza Febrian Prasetyo