Dalam tenang ku berkecamuk.
Selembar kertas dan sebuah pena, saat ini adalah teman.
Dalam relung hati yang paling dalam, kumulai menggoreskan pena tersebut
Dan merangkai kata demi kata.
Ya, kini telah menjadi sebait kalimat.
Kemudian hatiku berontak.
Dengan lantang ia meraung seperti singa.
“apa hanya ini saja yang dapat kau berikan?”
Lanjutnya,”apa ia mau menerima semuanya termasuk dirimu?”
Otakkupun mulai putus asa.
Akalku sudah mulai hilang.
Tanpa sengaja kuberdiri dan berteriak lantang.
“inilah diriku! Aku serba dalam kekurangan. Inilah yang dapat kupersembahkan untuk yang tersayang.
Inilah jiwa dan ragaku hanya untuk kau bidadari kecilku.”
Suasana pun hening.
Oh, Isthar yang Agung.
Petikanlah dawai-dawai cinta dari surga, agar jiwa-jiwa yang penuh keangkuhan ini lebur menjadi butiran pasir halus didalam indahnya sungai Nil yang bertaburkan emas pada malam ini.
(18 februari 2011)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar