Terima Kasih telah membaca Blog ini, semoga bermanfaat bagi anda dan memberikan inspirasi bagi semua.

Sabtu, 17 September 2011

BINGUNG AKU MAU MENULIS APA?

Dimana kau berada belahan jiwaku?
Kau tinggalkan sendiri kesedihanku dalam bulan ini.
Dan pada akhirnya malam ini bulan ikut menangisi hariku.

Indah memang bila diingat saat dahulu.
ketika kau sentuh tubuhku.
kurasakan ada yang berbeda saat itu.

Ku dengarkan keluhanmu.
dan kau dengarkan keluhanku.
kau pahami aku.
begitu pula ku memahamimu.

malam ini ku beranikan diriku untuk menuliskan sesuatu,
yang mungkin hanya omong kosong belaka bagi sebagian orang.
Ya....biarlah mereka berkata apa.
Toh hanya sebagian orang.
masih ada sahabat,teman dekat, bahkan keluarga yang setia mendengarkan keluh kesahku.

Hatiku berbisik."Gila,apa yang kamu perbuat?"
"aku hanya berucap, tak lebih." Kata otakku.
"Salah jika kau hanya berucap, lekas kau temui dia dan kau s'lesaikan semua!" Bentak ia.
"butuh nyali untuk itu. ia telah dibutakan oleh semua kepalsuan yang ada pada alam ini." Jawab Otakku melemah.
"ehmm...jadi itu yang kau takutkan?" tanyanya kembali.
sepi seketika saat terlontar pertnyaan itu..
hembusan angin yang hanya terdengar saat ini serta suara jangkrik bernyanyi seirama harmoni alam malam ini.

Bicaraku pada tubuh tak bertuan ini, "Terasa dingin ya malam ini?"
seketika Angin mulai bertiup cukup kencang.
hembusannya cukup memadamkan nyala api yang berkobar dan meroboohkan sendi-sendi yang biasa untuk bertumpu pada jiwa yang sedang larut pada kepalsuan dunia ini.

Reza Febrian Prasetyo 2011, 3 Mach 10:47 PM

Minggu, 20 Februari 2011

Untitled (dadakan semalam)


Dalam tenang ku berkecamuk.
Selembar kertas dan sebuah pena, saat ini adalah teman.
Dalam relung hati yang paling dalam, kumulai menggoreskan pena tersebut
Dan merangkai kata demi kata.

Ya, kini telah menjadi sebait kalimat. 
Kemudian hatiku berontak.
Dengan lantang ia meraung seperti singa.
“apa hanya ini saja yang dapat kau berikan?”
 Lanjutnya,”apa ia mau menerima semuanya termasuk dirimu?”
  
Otakkupun mulai putus asa.
Akalku sudah mulai hilang.
Tanpa sengaja kuberdiri dan berteriak lantang.
         “inilah diriku! Aku serba dalam kekurangan. Inilah yang dapat kupersembahkan untuk yang tersayang. 
          Inilah jiwa dan ragaku hanya untuk kau bidadari kecilku.”

 
Suasana pun hening.
Aku menengadah dalam kebimbangan.
Oh, Isthar yang Agung.
Petikanlah dawai-dawai cinta dari surga, agar jiwa-jiwa yang penuh keangkuhan ini lebur menjadi butiran pasir halus didalam indahnya sungai Nil yang bertaburkan emas pada malam ini.


(18 februari 2011)

Senin, 07 Februari 2011

Untukmu Ibu 2

Indah saat bersama..
dan merasa terpukul saat aku jauh darimu.

Ibu,,anakmu ini belum bisa berbakti kepadamu...
Tapi anakmu ini sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyenangkanmu.

Dihari ini..tepat detik ini...
Anakmu yang telah dewasa kini meneteskan air mata,
hanya untuk memohon kepada Ilahi supaya memberikan
kesehatan selalu padamu..

Ibu...Ibu...Ibu....
Anakmu ini akan selalu sayang Kepadamu...

Selamat Hari Ibu...Ibuku.....

Reza Febrian Prasetyo
*Hari Ibu 22 Des 2010

Lepas Darimu

Musim ini kucukupkan untuk melepaskanmu.
Kuberharap, doa-doaku dapat terbang,
bersama burung bul-bul yang mengiringi,
Terbenamnya sang Raja Hari.
Dimana esok pasti akan ada kehidupan yang lebih baik.

Dalam keheningan aku terdiam sejenak.
Kumemohon Kepada-Mu Sang Arif.
Bebaskanlah jiwa-jiwa yang sedang terbelenggu
dalam alunan-alunan dawai diNeraka.

Reza Febrian Prasetyo

Minggu, 27 Juni 2010

Untukmu Ibu

Untukmu Ibu

Sepasang mata indah itu,
hanya milikmu.
Senyum yang indah itu,
hanya milikmu.
Langkah kaki yang anggun itu,
hanya milikmu.
Dan sampai engkau tertidur lelap selamanya,
Engkau dapat melalui lembah sungai Nil yang bertaburkan emas,
penuh gemerlap berlian, menuju keabadian,
hanya milikmu.

Ibu, aku bersujud kepadamu.
Aku menangis meronta didalam pelukanmu.
Ibu, kau ajarkan aku bagaimana dapat mencapai sesuatu.
Kau ajarkan kebijaksanaan, Kau ajarkan segalanya.
Ibu, aku merasa terkoyak saat kau sedih.

Ibuku,putramu kini telah tumbuh dewasa.
telah belajar dari berbagai hal.
Dari yang baik dan yang buruk,
tapi putramu ini masih membutuhkan bimbingan.
Masih memerlukan dirimu seperti bayi yang menyusu pada Ibunya.

Pada Hari ini, tepat detik ini, aku bersimpuh kepadamu.
Aku menumpahkan isi perasaanku ini.
Ibu, terimalah persembahan yang tak berharga dari putramu ini.
dan ini semua tak ada bandingannya daripada jerit payahmu selama ini,
IBU............

Reza Febrian Prasetyo
(*2009-malam hari Ibu)

Malam Ku

Malam Ku

Malam indah setelah dewa air menyelesaikan tugasnya.
Tawa riang sang bintang mulai terdengar.
Alunan dawai para dewa telah didendangkan keseluruh penjuru negeri.
Apakah kau mendengarnya kekasihku?
Semua yang tersirat pada Alam itu adalah kata hatiku.

Oh, Dewi cinta...
hembuskan nafasmu dihatinya.
cairkan ego dinadinya.
berikan pikiranmu kepadanya.
karena pikiranmu telah bersumber dari pikiranku.
Luluhkan hatinya, karena hatinya sangat bersih dari noda-noda kehidupan ini.

Reza Febrian Prasetyo

Kamis, 24 Juni 2010

SLIRANE SING URIP

SLIRANE SING URIP

Aku kandha marang kancaku
“delenga, slirane nyekel tangane! Wingi slirane nyekel tanganku.”
Lan dheweke kandha :
“mbesuk, slirane bakal nyekel tanganku.”

Lan aku kandha :
“delenga, slirane linggih jejer marang lanangan liya. Lan wingi slirane linggih jejer marang aku.”
Lan dheweke kandha :
“mbesuk, slirane bakal linggih sesandhingan marang aku.”

Lan aku kandha :
“delenga, slirane ngombe saka ombenane lanangan kuwi. Lan wingi slirane ngombe saka gelasku.”
Lan dheweke kandha :
“mbesuk, slirane bakal ngombe saka gelasku.”

Lan aku kandha :
“delenga, kepriye slirane ndeleng lanangan kuwi kebak tresna! Lan karo tresna wingi slirane ndeleng aku.”
Lan dheweke kandha :
“mbesuk, slirane bakal mandheng aku kebak tresna.”

Lan aku kandha :
“rungoake bisikan tresnane marang lanangan kuwi. Lan wingi slirane mbisikake tresnane kuwi marang aku.”
Lan dheweke kandha :
“mbesuk, slirane bakal mbisikake tresnane marang aku.”

Lan aku kandha :
“dheleng, slirane ngrangkul lanangan kuwi, lan wingi slirane ngrangkul aku.”
Lan dheweke kandha :
“mbesuk, slirane bakal ana marang rangkulanku.”

Lan aku kandha :
“keganjilan apa kang ana ing slirane!!”
Lan dheweke kandha :
“slirane urip.”

REZA FEBRIAN PRASETYO
Adpt.(KG)1883-1931