Terima Kasih telah membaca Blog ini, semoga bermanfaat bagi anda dan memberikan inspirasi bagi semua.

Minggu, 27 Juni 2010

Untukmu Ibu

Untukmu Ibu

Sepasang mata indah itu,
hanya milikmu.
Senyum yang indah itu,
hanya milikmu.
Langkah kaki yang anggun itu,
hanya milikmu.
Dan sampai engkau tertidur lelap selamanya,
Engkau dapat melalui lembah sungai Nil yang bertaburkan emas,
penuh gemerlap berlian, menuju keabadian,
hanya milikmu.

Ibu, aku bersujud kepadamu.
Aku menangis meronta didalam pelukanmu.
Ibu, kau ajarkan aku bagaimana dapat mencapai sesuatu.
Kau ajarkan kebijaksanaan, Kau ajarkan segalanya.
Ibu, aku merasa terkoyak saat kau sedih.

Ibuku,putramu kini telah tumbuh dewasa.
telah belajar dari berbagai hal.
Dari yang baik dan yang buruk,
tapi putramu ini masih membutuhkan bimbingan.
Masih memerlukan dirimu seperti bayi yang menyusu pada Ibunya.

Pada Hari ini, tepat detik ini, aku bersimpuh kepadamu.
Aku menumpahkan isi perasaanku ini.
Ibu, terimalah persembahan yang tak berharga dari putramu ini.
dan ini semua tak ada bandingannya daripada jerit payahmu selama ini,
IBU............

Reza Febrian Prasetyo
(*2009-malam hari Ibu)

Malam Ku

Malam Ku

Malam indah setelah dewa air menyelesaikan tugasnya.
Tawa riang sang bintang mulai terdengar.
Alunan dawai para dewa telah didendangkan keseluruh penjuru negeri.
Apakah kau mendengarnya kekasihku?
Semua yang tersirat pada Alam itu adalah kata hatiku.

Oh, Dewi cinta...
hembuskan nafasmu dihatinya.
cairkan ego dinadinya.
berikan pikiranmu kepadanya.
karena pikiranmu telah bersumber dari pikiranku.
Luluhkan hatinya, karena hatinya sangat bersih dari noda-noda kehidupan ini.

Reza Febrian Prasetyo

Kamis, 24 Juni 2010

SLIRANE SING URIP

SLIRANE SING URIP

Aku kandha marang kancaku
“delenga, slirane nyekel tangane! Wingi slirane nyekel tanganku.”
Lan dheweke kandha :
“mbesuk, slirane bakal nyekel tanganku.”

Lan aku kandha :
“delenga, slirane linggih jejer marang lanangan liya. Lan wingi slirane linggih jejer marang aku.”
Lan dheweke kandha :
“mbesuk, slirane bakal linggih sesandhingan marang aku.”

Lan aku kandha :
“delenga, slirane ngombe saka ombenane lanangan kuwi. Lan wingi slirane ngombe saka gelasku.”
Lan dheweke kandha :
“mbesuk, slirane bakal ngombe saka gelasku.”

Lan aku kandha :
“delenga, kepriye slirane ndeleng lanangan kuwi kebak tresna! Lan karo tresna wingi slirane ndeleng aku.”
Lan dheweke kandha :
“mbesuk, slirane bakal mandheng aku kebak tresna.”

Lan aku kandha :
“rungoake bisikan tresnane marang lanangan kuwi. Lan wingi slirane mbisikake tresnane kuwi marang aku.”
Lan dheweke kandha :
“mbesuk, slirane bakal mbisikake tresnane marang aku.”

Lan aku kandha :
“dheleng, slirane ngrangkul lanangan kuwi, lan wingi slirane ngrangkul aku.”
Lan dheweke kandha :
“mbesuk, slirane bakal ana marang rangkulanku.”

Lan aku kandha :
“keganjilan apa kang ana ing slirane!!”
Lan dheweke kandha :
“slirane urip.”

REZA FEBRIAN PRASETYO
Adpt.(KG)1883-1931

Panyuwun

Panyuwun

Rikala lintang Ginebyar
Ati iki tansah nyuwun
Mbuh jumbuh kalian apa
Nanging Panyuwunku siji
Siji lamuning ati.
Siji pangareping ati
Siji katresnan ati.
Rikala baka,
Ati tansah nyawang
Sesawanganku kabur dumugi lintang.
Senajan iki panyuwunku
Tapi ati iki tambah bingung
Bingung apa kang bakal kawujud.



Reza Febrian Prasetyo

Lintang

Lintang

Sumunar cahyamu.
Gawe tentreme atiku.
Sumunar cahyamu
Gawe urip iki san saya luwih urip.
Sumunar cahyamu
Gawe sira dadi lelakone wengi iki.

Tresna

Tresna

Mbuh kuwi apa.
Tresna….
Sapa wae mangerti.
Nanging,
Tresna yen diundur ngelantur.
Nadyan wus sepata.
Tersna luntur ngoncati, tiwas andedawa lara.

Kandha-kandha

Kandha-kandha

Kandhaku….kandhane….kandhamu…
Kandhane…kandhaku…kandhamu…
Kandhamu…kandhane…kandhaku…
Jane apa ta sing dikandhake? Jane apa ta sing diomongke?

SULING

SULING

Weneh ana aku suling lan nyanyia.
Lalekna kabeh obat lan laramu.
Manungsa kaya dene larik-larik puisi kang katulis,
Dening kali-kali cilik kang ngambar segara.

WINGI BENGI

WINGI BENGI

Sak kiwa tengene dalan kang sepi iki
Wong-wong kang sibuk karo awake dhewe-dhewe
Sepasang mata kang endah kuwi lagi mandheng lintang ing mega
Tangane lagi nutup parase sing endah
Namung esmane kang ngomong marang aku
Wengi iki tansah adem banget

Hawa kang saya adem banget iki.
Tanpa perduli gawe slirane katon pucet.
Slirane kaya-kaya kepingin golek barang kang bisa ngangetake awake.
Tanpa pikir dhawa aku nyedak marang slirane lan ngomong.
Apa kang bisa sira rewangi?
Slirane amung mandeng awakku.
Ing pikire kandha, aku lagi butuh wong kang bisa gawe aku seneng.
Kanthi aku mbesuk nini-nini.

Ora krasa wektu wis nunjuk tabuh 8.
Ing ngarep plataran omah kang gesang.
Aku lan slirane lungguh jejer.
Slirane crita-crita marang aku.

Reza Febrian Prasetyo

Rabu, 10 Maret 2010

Pengertian Puisi dan Unsur-unsurnya

Pengertian Puisi dan Unsur-unsurnya

Karya sastra secara umum bisa dibedakan menjadi tiga: puisi, prosa, dan drama. Secara etimologis istilah puisi berasal dari kata bahasa Yunani poesis, yang berarti membangun, membentuk, membuat, menciptakan. Sedangkan kata poet dalam tradisi Yunani Kuno berarti orang yang mencipta melalui imajinasinya, orang yang hampir-hampir menyerupai dewa atau yang amat suka kepada dewa-dewa. Dia adalah orang yang berpenglihatan tajam, orang suci, yang sekaligus merupakan filsuf, negarawan, guru, orang yang dapat menebak kebenaran yang tersembunyi.

Menurut Kamus Istilah Sastra (Sudjiman, 1984), puisi merupakan ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait.

Watt-Dunton (Situmorang, 1980:9) mengatakan bahwa puisi adalah ekpresi yang kongkret dan yang bersifat artistik dari pikiran manusia dalam bahasa emosional dan berirama.

Carlyle mengemukakan bahwa puisi adalah pemikiran yang bersifat musikal, kata-katanya disusun sedemikian rupa, sehingga menonjolkan rangkaian bunyi yang merdu seperti musik.

Samuel Taylor Coleridge mengemukakan puisi itu adalah kata-kata yang terindah dalam susunan terindah.

Ralph Waldo Emerson (Situmorang, 1980:8) mengatakan bahwa puisi mengajarkan sebanyak mungkin dengan kata-kata sesedikit mungkin.

Putu Arya Tirtawirya (1980:9) mengatakan bahwa puisi merupakan ungkapan secara implisit dan samar, dengan makna yang tersirat, di mana kata-katanya condong pada makna konotatif.

Herman J. Waluyo mendefinisikan bahwa puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengonsentrasian struktur fisik dan struktur batinnya.

Ada juga yang mengatakan bahwa puisi adalah bentuk karya sastra yang mengekspresikan secara padat pemikiran dan perasaan penyairnya, digubah dalam wujud dan bahasa yang paling berkesan.

Yang Membedakan Puisi dari Prosa

Slametmulyana (1956:112) mengatakan bahwa ada perbedaan pokok antara prosa dan puisi. Pertama, kesatuan prosa yang pokok adalah kesatuan sintaksis, sedangkan kesatuan puisi adalah kesatuan akustis. Kedua, puisi terdiri dari kesatuan-kesatuan yang disebut baris sajak, sedangkan dalam prosa kesatuannya disebut paragraf. Ketiga, di dalam baris sajak ada periodisitas dari mula sampai akhir.

Pendapat lain mengatakan bahwa perbedaan prosa dan puisi bukan pada bahannya, melainkan pada perbedaan aktivitas kejiwaan. Puisi merupakan hasil aktivitas pemadatan, yaitu proses penciptaan dengan cara menangkap kesan-kesan lalu memadatkannya (kondensasi). Prosa merupakan aktivitas konstruktif, yaitu proses penciptaan dengan cara menyebarkan kesan-kesan dari ingatan (Djoko Pradopo, 1987).

Perbedaan lain terdapat pada sifat. Puisi merupakan aktivitas yang bersifat pencurahan jiwa yang padat, bersifat sugestif dan asosiatif. Sedangkan prosa merupakan aktivitas yang bersifat naratif, menguraikan, dan informatif (Pradopo, 1987)

Perbedaan lain yaitu puisi menyatakan sesuatu secara tidak langsung, sedangkan prosa menyatakan sesuatu secara langsung.

Unsur-unsur Puisi

Secara sederhana, batang tubuh puisi terbentuk dari beberapa unsur, yaitu kata, larik , bait, bunyi, dan makna. Kelima unsur ini saling mempengaruhi keutuhan sebuah puisi. Secara singkat bisa diuraikan sebagai berikut.

Kata adalah unsur utama terbentuknya sebuah puisi. Pemilihan kata (diksi) yang tepat sangat menentukan kesatuan dan keutuhan unsur-unsur yang lain. Kata-kata yang dipilih diformulasi menjadi sebuah larik.

Larik (atau baris) mempunyai pengertian berbeda dengan kalimat dalam prosa. Larik bisa berupa satu kata saja, bisa frase, bisa pula seperti sebuah kalimat. Pada puisi lama, jumlah kata dalam sebuah larik biasanya empat buat, tapi pada puisi baru tak ada batasan.

Bait merupakan kumpulan larik yang tersusun harmonis. Pada bait inilah biasanya ada kesatuan makna. Pada puisi lama, jumlah larik dalam sebuah bait biasanya empat buah, tetapi pada puisi baru tidak dibatasi.

Bunyi dibentuk oleh rima dan irama. Rima (persajakan) adalah bunyi-bunyi yang ditimbulkan oleh huruf atau kata-kata dalam larik dan bait. Sedangkan irama (ritme) adalah pergantian tinggi rendah, panjang pendek, dan keras lembut ucapan bunyi. Timbulnya irama disebabkan oleh perulangan bunyi secara berturut-turut dan bervariasi (misalnya karena adanya rima, perulangan kata, perulangan bait), tekanan-tekanan kata yang bergantian keras lemahnya (karena sifat-sifat konsonan dan vokal), atau panjang pendek kata. Dari sini dapat dipahami bahwa rima adalah salah satu unsur pembentuk irama, namun irama tidak hanya dibentuk oleh rima. Baik rima maupun irama inilah yang menciptakan efek musikalisasi pada puisi, yang membuat puisi menjadi indah dan enak didengar meskipun tanpa dilagukan.

Makna adalah unsur tujuan dari pemilihan kata, pembentukan larik dan bait. Makna bisa menjadi isi dan pesan dari puisi tersebut. Melalui makna inilah misi penulis puisi disampaikan.

Adapun secara lebih detail, unsur-unsur puisi bisa dibedakan menjadi dua struktur, yaitu struktur batin dan struktur fisik.

Struktur batin puisi, atau sering pula disebut sebagai hakikat puisi, meliputi hal-hal sebagai berikut.

(1) Tema/makna (sense); media puisi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan tanda dengan makna, maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait, maupun makna keseluruhan.

(2) Rasa (feeling), yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya. Pengungkapan tema dan rasa erat kaitannya dengan latar belakang sosial dan psikologi penyair, misalnya latar belakang pendidikan, agama, jenis kelamin, kelas sosial, kedudukan dalam masyarakat, usia, pengalaman sosiologis dan psikologis, dan pengetahuan. Kedalaman pengungkapan tema dan ketepatan dalam menyikapi suatu masalah tidak bergantung pada kemampuan penyairmemilih kata-kata, rima, gaya bahasa, dan bentuk puisi saja, tetapi lebih banyak bergantung pada wawasan, pengetahuan, pengalaman, dan kepribadian yang terbentuk oleh latar belakang sosiologis dan psikologisnya.

(3) Nada (tone), yaitu sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca, dll.

(4) Amanat/tujuan/maksud (itention); sadar maupun tidak, ada tujuan yang mendorong penyair menciptakan puisi. Tujuan tersebut bisa dicari sebelum penyair menciptakan puisi, maupun dapat ditemui dalam puisinya.

Sedangkan struktur fisik puisi, atau terkadang disebut pula metode puisi, adalah sarana-sarana yang digunakan oleh penyair untuk mengungkapkan hakikat puisi. Struktur fisik puisi meliputi hal-hal sebagai berikut.

(1) Perwajahan puisi (tipografi), yaitu bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal-hal tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi.

(2) Diksi, yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Karena puisi adalah bentuk karya sastra yang sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, maka kata-katanya harus dipilih secermat mungkin. Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata.

(3) Imaji, yaitu kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji dapat dibagi menjadi tiga, yaitu imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil). Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, mendengar, dan merasakan seperti apa yang dialami penyair.

(4) Kata kongkret, yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan munculnya imaji. Kata-kata ini berhubungan dengan kiasan atau lambang. Misal kata kongkret “salju: melambangkan kebekuan cinta, kehampaan hidup, dll, sedangkan kata kongkret “rawa-rawa” dapat melambangkan tempat kotor, tempat hidup, bumi, kehidupan, dll.

(5) Bahasa figuratif, yaitu bahasa berkias yang dapat menghidupkan/meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu (Soedjito, 1986:128). Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna (Waluyo, 1987:83). Bahasa figuratif disebut juga majas. Adapaun macam-amcam majas antara lain metafora, simile, personifikasi, litotes, ironi, sinekdoke, eufemisme, repetisi, anafora, pleonasme, antitesis, alusio, klimaks, antiklimaks, satire, pars pro toto, totem pro parte, hingga paradoks.

(6) Versifikasi, yaitu menyangkut rima, ritme, dan metrum. Rima adalah persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, dan akhir baris puisi. Rima mencakup (1) onomatope (tiruan terhadap bunyi, misal /ng/ yang memberikan efek magis pada puisi Sutadji C.B.), (2) bentuk intern pola bunyi (aliterasi, asonansi, persamaan akhir, persamaan awal, sajak berselang, sajak berparuh, sajak penuh, repetisi bunyi [kata], dan sebagainya [Waluyo, 187:92]), dan (3) pengulangan kata/ungkapan. Ritma adalah tinggi rendah, panjang pendek, keras lemahnya bunyi. Ritma sangat menonjol dalam pembacaan puisi.


http://abdurrosyid.wordpress.com/2009/07/27/puisi-pengertian-dan-unsur-unsurnya/